
(SeaPRwire) – By: Gavin Thorne
Spencer Pratt bukan hanya calon walikota Los Angeles yang dulu terkenal dari reality show. Kampanyenya yang berpusat pada amarah akibat kebakaran hutan Palisades justru membuka mata banyak orang. Bencana iklim tidak hanya merusak lingkungan dan properti, tapi juga memunculkan gelombang politik anti-establishment yang tidak terduga. Banyak di komunitas iklim berpikir bencana akan mendorong perubahan akar permasalahan, tapi Pratt menunjukkan hal yang sebaliknya.
Tahun lalu, saya menulis cover story TIME tentang akibat kebakaran hutan Los Angeles. Spencer Pratt segera menyerang saya di media sosial. Dia menyalahkan saya tidak menyebut perubahan iklim dalam laporan. Dia memanggil saya malas dan menyatakan reporting saya tidak berdaya. Dibanding saya, dia lebih keras menyerang Walikota Karen Bass dan Gubernur Gavin Newsom. Dia mencela respons kebakaran dan kurangnya persiapan mereka selama berbulan-bulan.
Suara pemilihan masih dihitung, tapi Pratt kemungkinan akan melawan Bass di pemilihan umum November. Pada 7 Januari 2025, Pratt melihat kebakaran hutan mendekati rumahnya di Pacific Palisades, California. Rumah pribadinya terbakar akibat kebakaran tersebut. Kampanyenya berpusat penuh pada amarah atas kebakaran dan lambatnya proses pemulihan. Dalam iklan kampanye, dia dan keluarga bermalam di lahan bekas rumahnya, lalu berjalan di jalan bersih Bass untuk menciptakan kontras. Bahkan jika masuk ballot, kecil kemungkinan mengalahkan Bass, karena politik pugilist dan hubungan MAGA terlalu ekstrem untuk warga LA.
Bagi para akademisi yang mempelajari akibat bencana, kebangkitan Pratt tidak mengejutkan. Penelitian sudah lama menunjukkan, bencana yang dikelola buruk akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi. Hal ini membuka jalan bagi politisi anti-establishment untuk naik ke tampuk kekuasaan. Pratt menuntut akuntabilitas pejabat terpilih dan reformasi asuransi serta manajemen darurat, tapi dia skeptis terhadap elit politik dan keahlian mereka yang sebenarnya dibutuhkan untuk tanggulangan bencana iklim. Contohnya, penelitian Italia tahun 2023 menemukan respons buruk gempa menciptakan sarang otoriter di wilayah tersebut.
Studi Bank Pembangunan Amerika Inter-Amerika juga menemukan hal serupa. Gempa di Meksiko menimbulkan ketidakpercayaan politik, tapi respons bencana yang baik bisa menguranginya. Kelompok sayap kanan AS juga menggunakan akibat bencana untuk merekrut anggota. Sudah 18 bulan sejak kebakaran LA, pemulihan masih lambat dan terhambat. Namun, implikasi hal ini tidak masuk dalam model iklim dan latihan meja yang biasa dilakukan. Biaya yang timbul sangat riil: disfungsi politik bisa lambatkan pemulihan, gangguan pasar asuransi, dan hambatan operasional bisnis. Ironinya, kritik Pratt terhadap artikel saya justru menunjukkan dia tidak memahami bahwa adaptasi iklim adalah hal yang dibutuhkan untuk mencegah bencana serupa di masa depan.
Kita tidak bisa lagi mengira bencana iklim akan secara otomatis mendorong perubahan politik positif.
Author bio: Gavin Thorne, jurnalis investigasi politik berbasis Washington DC yang sering menulis tentang dinamika politik lokal dan dampak bencana terhadap pemerintahan.