(SeaPRwire) –
By: Sylvia Brooks

Banyak orang tua masih percaya saran lama untuk menunda memberi telur dan kacang sampai anak berusia balita. Saran ini dulunya didasari teori paparan dini alergen bisa memicu risiko alergi makanan. Nyatanya, saran ini justru membuat tingkat alergi anak AS naik 50% sepanjang periode 1997 sampai 2011.
Riset penanda tahun 2015 pertama kali membuktikan paparan dini kacang justru mengurangi risiko alergi. Badan NIH AS merilis pedoman baru tahun 2017 yang menganjurkan paparan dini alergen. Data tahun lalu menunjukkan penerapan pedoman ini menurunkan diagnosis alergi kacang, mencegah puluhan ribu kasus baru. Rilis 8 Juni di JAMA Pediatrics menunjukkan hasil sama untuk telur: penerapan pedoman di Australia turunkan angka alergi telur 17%.
Mekanismenya sederhana, menurut Dr David Hill, ahli alergi anak dari Rumah Sakit Anak Philadelphia. Jika alergen pertama kali masuk melalui usus saat anak makan, sistem imun akan belajar bahwa makanan itu aman. Jika kontak pertama lewat kulit kering atau pecah seperti pada eksim, sistem imun justru akan menganggap alergen itu berbahaya. Sekarang hampir semua orang tua di Australia memberi telur sebelum anak berusia 1 tahun, setengahnya bahkan sebelum usia 7 bulan, kata Dr Jennifer Koplin, penulis riset ini.
Berikan telur yang sudah dimasak matang sepenuhnya, campur dengan makanan padat biasa anak. Waktu pemberian yang tepat adalah segera setelah anak mulai makan makanan padat, umumnya di usia sekitar 6 bulan.
Author bio: Sylvia Brooks, analis kebijakan kesehatan veteran yang fokus meneliti mekanisme penetapan harga obat dan kebijakan pengadaan layanan kesehatan masyarakat.