
(SeaPRwire) – By: Julian Holbrooke
Iran datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban ganda. Di lapangan, mereka bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru. Di luar, tim nasional mereka terjepit antara diplomasi gagal dan larangan perjalanan AS. Mehdi Taremi, bintang tim, menyebut semuanya “bencana”. Bukan soal hasil pertandingan, tapi logistik yang kacau.
11 anggota delegasi Iran, termasuk pejabat federasi sepak bola, tertahan di perbatasan AS. Basis pelatihan mereka dipindahkan dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, demi keamanan. Perjalanan ke stadion di Los Angeles memakan lima jam karena prosedur imigrasi. Setelah pertandingan, mereka harus terbang kembali ke Meksiko malam itu juga. Istirahat dan pemulihan tim terganggu. FIFA tidak memberikan dukungan memadai.
Penonton di stadion terpecah. Sebagian memprotes tim sebagai representasi rezim yang menindas. Lainnya tetap mendukung dengan bendera pra-revolusi, simbol identitas nasional yang berbeda dari pemerintah saat ini. Seorang aktivis di Los Angeles berkata, “Ini bukan tim nasional Iran. Mereka mewakili rezim teroris.” Sementara itu, seorang arsitek dari Bay Area menegaskan, “Tim nasional bagaikan keluarga. Saya tetap mendukung mereka.”
Ketegangan geopolitik ini bukan sekadar latar belakang. Ia menggerogoti integritas kompetisi olahraga global. Ketika negara tuan rumah dan lawan politik berhadapan di lapangan hijau, sepak bola kehilangan netralitasnya. Iran akan kembali bermain melawan Belgia minggu depan. Tapi apakah FIFA akan memperbaiki sistem visa dan keamanan untuk tim yang terdampak konflik? Atau ini hanya akan berulang di turnamen berikutnya?
Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional yang sering berkontribusi ke surat kabar Eropa utama, fokus pada dinamika geopolitik dan dampak kebijakan global terhadap institusi multinasional.