
(SeaPRwire) – Oleh: Adrian Cole, Sarjana Internasional Terkemuka dalam Studi Administrasi Publik dan Kebijakan Sosial
Kita terlalu lama menatap langit mencari jawaban krisis iklim. Padahal solusi paling canggih ada tepat di bawah sepatu kita. Tanah bukan sekadar media inert. Bukan sumber daya tak habis untuk dibajak atau diaspal. Setiap genggam tanah sehat menyimpan lebih banyak makhluk hidup daripada jumlah manusia di planet ini. Menganggap remeh tanah berarti mengabaikan tali kehidupan kita sendiri. Ketergantungan pangan dan stabilitas iklim berada di sini. Tanah menahan air hujan agar tidak langsung kembali ke laut. Mengabaikannya adalah bentuk kelalaian fatal. Kita harus berhenti memperlukannya seperti kotoran biasa.
Data resmi menegaskan tanah sebagai benteng karbon alami. Ia menyimpan hampir dua kali lipat karbon yang ada di atmosfer. Potensinya besar jika dikelola benar. Namun, realitas di lapangan bergerak berlawanan. Degradasi tanah justru melepaskan karbon kembali ke udara. Laju erosi kini mencapai seratus kali lebih cepat dibanding pembentukan alaminya. Sekitar sepertiga tanah dunia sudah rusak parah. Angka ini mungkin masih meremehkan fakta sebenarnya. Penggunaan pupuk intensif hanya menutupi kerapuhan struktur tanah itu sendiri. Kita membutuhkan pergeseran drastis dalam cara memandang aset ini.
Solusi teknis seperti agroforestry atau tanaman penutup sering didengungkan. Namun, dampak sosialnya jauh lebih dalam dari sekadar teknik bercocok tanam. Kerusakan lahan adalah pendorong diam kenaikan harga pangan. Volatilitas pasar dan kerapuhan rantai pasok global bermula dari sini. Saat lingkungan hidup terfragmentasi, keamanan pangan dan air terancam. Langsung berdampak pada migrasi manusia dan stabilitas geopolitik. Komunitas pedesaan dan petani kecil lah yang paling menderita. Mereka berada di garis depan kejutan iklim yang kita cegari. Manfaat restorasi lahan harus menyentuh kelompok rentan ini secara langsung.
Pemerintah tidak bisa lagi bersikap pasif. Tanah harus naik kelas menjadi aset strategis global, bukan komoditas teraba. Integrasi kesehatan tanah ke dalam rencana adaptasi iklim nasional adalah wajib. Sektor swasta harus ikut campur. Mereka perlu merapikan ulang rantai pasok global. Pendanaan harus mengalir ke praktik pertanian yang melindungi, bukan mengeksploitasi. Masa depan kita bergantung pada pergeseran dari penjarahan ke regenerasi. Tanah yang sehat adalah satu-satunya jalan menuju stabilitas jangka panjang. Kita harus belajar dari penjagaan tradisional masyarakat adat.
Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. SeaPRwire (https://www.seaprwire.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan sehubungan dengan hal tersebut.
Sektor: Top Story, Daily News
SeaPRwire menyediakan distribusi siaran pers real-time untuk perusahaan dan lembaga, menjangkau lebih dari 6.500 toko media, 86.000 editor dan jurnalis, dan 3,5 juta desktop profesional di 90 negara. SeaPRwire mendukung distribusi siaran pers dalam bahasa Inggris, Korea, Jepang, Arab, Cina Sederhana, Cina Tradisional, Vietnam, Thailand, Indonesia, Melayu, Jerman, Rusia, Prancis, Spanyol, Portugis dan bahasa lainnya.