(SeaPRwire) –
By: Robert Kensington
Kritik utama terhadap gelombang adopsi AI hari ini adalah kemalasan intelektual. Banyak eksekutif terjebak dalam mentalitas “cari yang mudah”. Mereka ingin lompat ke tahap otomatisasi dan pengembalian investasi yang cepat. Padahal, mereka melewatkan pekerjaan fondasi yang membosankan dan mahal. Ini seperti membangun menara di atas tanah rawa. Hasilnya pasti ambruk. Industri yang diatur seperti keuangan merasakan hal ini paling dalam. Mereka tak bisa sekadar menempelkan AI di atas tumpukan data yang berantakan.
[Fakta Rilis Resmi]: Di acara Brainstorm Tech di Aspen, para pemimpin teknologi mengungkapkan jurang antara harapan dan realitas. Manoj Bohra, CTO State Street, menyebutnya “pekerjaan fondasi”. Langkah pertama adalah data yang tepat di tempat yang tepat dengan kontrol tata kelola yang ketat. Lalu, pemetaan alur kerja sebelum otomatisasi. Bill Briggs, CTO Deloitte, mengkritik perusahaan yang gagal melakukan pekerjaan prinsip pertama. Mereka buru-buru meluncurkan use case AI skala besar hanya untuk terlihat melek teknologi. Kathy Pham dari ReviveHealth menambahkan, bisnis sering mengoptimalkan hal yang salah. Mereka menjatuhkan AI ke dalam proses yang sudah lama terpisah dari tujuannya semula.
[Subteks Industri]: Di balik nasihat yang tampak masuk akal itu, ada kepanikan yang tersembunyi. Stephen Balaban dari Lambda mengakui, AI sebenarnya belum siap untuk banyak use case di luar pengembangan perangkat lunak. Namun, dia memperingatkan, perusahaan harus bersiap sekarang. Dalam satu atau dua tahun ke depan, model AI akan cukup canggih untuk menjalankan agen di domain lain. Faraz Shafiq dari Wells Fargo mengungkap dilema pengukuran. Bank mereka melihat peningkatan 25% dalam pembukaan akun baru berkat AI. Tapi bagaimana mengukur nilai hubungan manusia ketika seorang banker punya lebih banyak waktu untuk nasabah? ROI sejati mungkin baru terlihat dalam hitungan dekade.
[Fakta Lanjutan]: Percakapan berkembang di luar ROI teknis. Boris Cherny dari Anthropic menyoroti kebutuhan manusia yang justru meningkat. Di dunia di mana insinyur menghabiskan waktu mengawasi ratusan agen AI, pertemuan tatap muka untuk membangun kepercayaan dan mentor menjadi lebih krusial. Di panggung utama, CEO Hyatt dan Snowflake sepakat bahwa perusahaan perangkat lunak yang membatasi akses agen AI pihak ketiga akan kalah. Sementara itu, Timothee Lacroix dari Mistral membahas “kedaulatan AI”. Ini tentang negara yang menguasai bagian stack yang mereka bisa. Data adalah kunci teka-teki ini, terutama data budaya sensitif masyarakat adat.
Pasar akan segera melakukan koreksi keras. Perusahaan yang hanya mengejar use case AI yang mudah dan terlihat keren, tanpa membangun fondasi data dan proses ulang yang solid, akan ditinggalkan. Mereka yang bersabar membangun “jembatan” seperti State Street dan Wells Fargo, meski ROI-nya tidak instan, akan menguasai lanskap kompetitif baru. Gelombang konsolidasi berikutnya tidak akan terjadi di antara model AI, tetapi di antara perusahaan yang mampu mengintegrasikannya secara mendalam ke dalam DNA operasional mereka.
Author bio: Robert Kensington, veteran entrepreneur luar negeri dengan pengalaman puluhan tahun dalam investasi dan ekspansi industri ekonomi riil.